Senin, 20 Januari 2014

MENINGGALKAN AGAMA HINDU TIDAK AKAN PERNAH BISA MENCAPAI SORGA ATAU MOKSA (TUJUAN TERTINGGI)

Oleh : dr. IN. Guli Mudiarcana
Wakil Ketua PHDI Kab. OKU, Sumatera Selatan
Pindah agama meninggalkan Agama Hindu,  sangat dilarang dalam agama Hindu. Mereka yang meninggalkan agama Hindu,  mereka disebut : “disesatkan oleh pemikiran sesat kaum Raksasa dan Setan (Asura) yang mengelirukannya (BG.VII.20 dan IX.12)

Imbalan bagi orang yang meninggalkan agama Hindu untuk mencari Tuhan lain, selain Tuhannya agama Hindu adalah:  tidak akan pernah bisa mencapai ke-sempurnaan, kebahagiaan, Sorga atau Moksa, sebagai tujuan tertinggi umat Hindu.  (BG. XVI.23)   
                         
PINDAH AGAMA DISEBABKAN KARENA KURANGNYA PEMAHAMAN UMAT HINDU TERHADAP AGAMANYA  DAN MENGANGGAP SEMUA AGAMA SAMA,  PADA-HAL SEMUA AGAMA TIDAK SAMA. 
  
Ketidak perdulian  orang tua terhadap anak gadisnya juga penyebab terbanyak  wanita Hindu pindah agama dengan alasan ikut suami.  Prinsip wanita ikut suami atau Predana ikut Purusa sering disalah artikan dengan membiarkan anak gadisnya ikut laki-laki manapun, termasuk ikut Raksasa atau Asura/ Setan yang menipu umat manusia.
 
Yang dimaksud Predana ikut Purusa adalah dalam kontek masih satu Agama yaitu Agama Hindu. Yang dimaksud istri harus ikut suami bukan ikut Agama suami, atau membiarkan anak gadis kita ikut menjadi Raksasa atau Asura (setan), melainkan ter-batas pada ikut adat istiadat keluarga suami yang masih berdasarkan atas Dharma (agama Hindu).
Misalnya seorang perempuan dari Bali diambil  isteri oleh lelaki dari Jawa, maka sang istri wajib ikut adat istiadat suaminya yang dari Jawa. Tetapi kalau lelakinya ter-nyata tidak beragama Hindu, maka dilarang bagi si wanita meninggalkan Agama Hindu seperti sabda Hyang Widdhi berikut:
Yah sastrawiddim utsrijya,                                     wartate kamakaratah,                                                          na sa siddhim awapnoti,                                                   na sukham na param gatim.
 
Artinya
Mereka yang meninggalkan Weda (Yah sastrawiddhimUtsrijya),mereka dipengaruhi oleh nafsu duniawi, tidak akan pernah bisa mencapai kesempurnaan, kebahagiaan dan tidak pernah bisa mencapai tujuan tertinggi (Sorga atau Moksa) (BG.XVI.23)
Sang isteri justru  diperintahkan untuk  me-wartakan  Weda kepada sang suami  sebagai orang yang masih asing bagi Weda untuk mengikuti jalan Weda seperti mantra berikut
Yathemam vacam kalyanim avadani janebhyah, Brahma rajanyabhyam sudraya caryaya ca svaya caranaya ca (Yayurveda XXVI.2)

Artinya :                                                            Hendaknya wartakan sabda suci ini kepada seluruh umat manusia, baik kepada para Brahmana, para raja-raja maupun kepada masyarakat pedagang, petani dan nelayan serta para buruh, kepada orang-orangku maupun orang asing sekalipun

Hyang Widdhi memerintahkan umat Hindu untuk menyebarkan ajaran Hindu kepada seluruh umat manusia. Seandainya ada Wanita Hindu menikah dengan laki-laki bukan beragama Hindu, maka kewajiban si Wanita untuk mengajak atau mengajari laki-lakinya (suaminya) agama Hindu seperti sabda Hyang Widdhi tersebut diatas.

PINDAH AGAMA SERING TERJADI  KARENA PEMAHAMAN YANG KELIRU ATAU SENGAJA DIKELIRUKAN OLEH  KAUM ADHARMA

Mereka yang dikendalikan oleh nafsu karena pengetahuannya yang salah/keliru, pergi ke-tempat pemujaan dewa-dewa lain ( selain dewa-dewa Hindu, pergi ke agama lain mencari tuhan lain dan  meninggalkan agama Hindu. Red. ), mereka berpengang pada aturan menurut cara-cara mereka sendiri (BG. VII.20).

Dengan harapan yang sia-sia, perbuatan yang sia-sia, pengetahuan yang sia-sia dan tanpa kesadaran, mereka mengikuti jalan keliru oleh pengaruh jahat Raksasa dan Setan (Asura)  yang menyesatkannya (BG.IX.12)

Orang yang pindah agama atau meninggal kan Agama Hindu, sama artinya mencari Tuhan lain. Mereka oleh agama Hindu disebut : dipengaruhi/ ditipu  oleh Raksasa dan  Asura (setan) yang membawa ke jalan sesat.

Dalam agamanya yang baru sering  diajarkan atau mungkin ditemukan ayat-ayat  yang menghujat Weda dan Agama Hindu sebagai agama penyembah berhala, agama politheis, menerapkan kasta-isme dan agamanya kaum pagan dan lain sebagainya, sebagai ekpresi kebencian terhadap kitab Weda dan Hyang Widdhi. Sehingga menurut Hyang Widdhi/Brahman kelak Atmanya pantas dicampakkan ke Neraka.
Dalam BG. XVI.19 disebutkan :                                Mereka yang kejam membenci Aku, adalah manusia yang paling hina, yang Aku campakkan tak henti-hentinya penjahat itu ke dalam kandungan Raksasa.                    

Karena meninggalkan Agama Hindu berarti tidak bisa lagi membayar 3 macam hutang (tri Rna), karena tidak lagi mengakui adanya Tri Rna. Sering kita melihat orang yang sudah pindah agama disaat orang tuanya meninggal dia datang memakai pakaian adat, dia kelihatan berdoa seperti orang Hindu, padahal dia sudah tidak lagi beragama Hindu (mungkin doanya sudah pake bahasa agama  lain). Keluarga mereka menerima seolah-olah biasa-biasa saja tanpa beban, demikian juga masyarakat tidak peduli.

Dalam Manawa Dharmasastra VI.35 disebutkan :’ Kalau ia telah membayar 3 macam hutangnya (Hutang kepada Hyang Weddhi, Hutang kepada leluhur dan hutang kepada orang Tua) hendaknya ia menunjuk kan pikiran untuk mencapai kebebasan terakhir. Ia yang mengejar kebebasan terakhir tanpa menyelesaikan ke tiga macam hutangnya akan tenggelam ke bawah.
Dalam Bhagawad Gita III.35 disebutkan :’ Lebih baik mengerjakan kewajiban sendiri walaupun tidak sempurna daripada dharmanya orang lain yang dilakukan dengan baik, lebih baik mati dalam tugas sendiri daripada dalam tugas orang lain.

Sejak dalam kandungan kita telah beragama Hindu. Nenek moyang kita juga beragama Hindu. Bahkan seluruh umat manusia pada awalnya beragama Hindu seperti disebut dalam bhagawad Gita berikut :
Imam wiwaswaite yogam, proktawan aham awyayam, wiwaswan manawe praha, manur ikswakawe’ brawit. Ewam parampara praptam,  imam rajarsayo widuh, sa kalena ‘ha mahata, yogo nastah parantapa. Sa ewa ‘yam maya te’dya, yogah proktah puratanah, bhakto ‘si me sakha cati, rahasyam hy etad uttamam (BG.1-3)

Artinya :
Ajaran abadi ini (weda) Aku turunkan kepada Wiwaswan, Wiwaswan mengajarkan kepada Manu,  dan Manu menerangkan kepada Ikswaku. Demikian diteruskan turun temurun,  para Raja resi mengetahuinya, ajaran ini lenyap di dunia bersamaan dengan berlalunya masa yang amat panjang Yoga yang tua (Weda) itu pulalah yang Aku ajarkan kepadamu sekarang sebab engkau adalah pengikut dan kawan-Ku, sesungguh-nya ini sangat rahasia.

Manu (yang menerima ajaran kitab Weda pertama kali) adalah leluhur umat manusia sehingga seluruh keturunannya disebut Manusia. Kitab Weda yang diajarkan kepada beliau inilah yang kembali diajarkan kepada Umat manusia saat ini.

YAKINLAH   BAHWA WEDA BERASAL DARI HYANG WIDDHI, PERINTAH-PERINTAHNYA MERUPAKAN PETUNJUK JALAN BAGI UMAT MANUSIA.

Kitab suci agama Hindu (Weda) berasal dari Hyang Widdhi/Tuhan Yang Maha Esa,  Seperti  dikatakan sendiri oleh beliau dalam Bagawad Gita. XV.15 berikut :
Weda ntakrid wedawid ewa ca ‘ham/ Akulah pencipta weda dan Aku yang mengetahui isi weda. 

Juga dinyatakan dalam Atharvaveda X.7.20 berikut:
Yasmad rco apataksan,  yajur yasmad apakasan,  samani yasya lomany atharvangiraso mukham. Skambham tam bruhi katamah svideva sah.:
Wahai manusia, Rgveda lahir dari-Ku, yang merupakan prana-Ku dan dari-Ku juga lahir yajurveda yaitu hati-Ku, Sama-veda adalah rambut-Ku, Atharvaveda adalah muka-Ku. Katakan siapakah yang sebenarnya menciptakan Veda. Wahai manusia, Akulah dengan nama Skambham yang menciptakan veda itu”

Bahwa kitab Weda berasal dari  Hyang Widdhi juga dinyatakan oleh beliau dalam Mantra Weda berikut :
Tasmad yajnat sarvahuta, rcah samani jajnire,  chandamsi jajnire tasmad,                                                                                 yajus tasmad ajayata (Rgveda X.10.9 dan Yayurveda XXXI.7)
“Wahai umat manusia, Rgveda, Samaveda, Atharvaveda dan Yayurveda, berasal dari-Ku”

Kitab Weda disebut juga  sastrawiddhi atau sastra brahman karena berasal dari Hyang Widdhi/Brahman/Tuhan YME. Sedangkan sastra yang berasal dari pemikiran manusia, seperti yang ditulis oleh para professor / ahli agama/ Rsi/ Danghyang/ Mpu dsb.  disebut Sastramanawa.
Mereka yang mencela dan menyimpangkan kitab Weda (sastrawiddhim), dan tidak mengikuti ajaran Weda adalah orang-orang bodoh  yang tidak tahu jalan kebenaran dan kehilangan kesempatan untuk mengetahui kebenaran abadi (BG.III.32)

Mereka yang selalu mengikuti ajaran Weda dan selalu melaksanakan perintah-perintah kitab Weda dengan penuh keyakinan dan bebas dari kepentingan duniawi akan dibebaskan dari perputaran karma/ Reinkarnasi. Seperti sabda Sri Krisna dalam Bagawad Gita.III.31 berikut :
Ye me matam idam nityam anustisthanti manawah, sraddhawanto ‘nasuyanto mucyante te’pi karmabhih.
Mereka yang selalu mengikuti ajaran-Ku dengan penuh keyakinan dan bebas dari keterikatan duniawi, mereka  akan dibebas kan dari belengu karma. (bebas dari kelahiran kembali/Reinkarnasi).

Ananyas cintayanto mam, ye janah paryupasate, tesam nityabhiyuktanam, yogaksemam wahamy aham.(BG.IX.22)
Mereka yang selalu memuja-Ku, merenung- kan Aku selalu, kepada mereka Ku bawakan segala apa yang mereka tidak punya dan akan Ku lindungi segala apa yang mereka telah miliki.

KESIMPULANNYA :
1.      Meninggalkan Agama Hindu (apalagi karena alasan ikut isteri atau ikut suami) akan membuat Hidup menjadi sengsara, tidak akan pernah bisa mencapai kebahagiaan, kesucian, Sorga atau Moksa sebagai tujuan tertinggi.
2.      Pindah agama terjadi karena kurangnya pemahaman orang tua/umat Hindu terhadap kitab suci Weda/Agama Hindu
3.      Pindah agama terjadi karena pemahaman yang keliru atau sengaja dikelirukan oleh kaum adharma (baik untuk kepentingan pemurtadan terhadap Hindu, maupun ke-pentingan bisnis/dagang dengan dalih agama) yang secara perlahan ingin meng konversi  umat Hindu.
4.      Umat Hindu harus yakin bahwa kitab Weda berasal dari Hyang Widdhi, pe-rintah-perintahnya merupakan tuntunan bagi umat manusia untuk mencapai ke-sempurnaan, kebahagiaan dan tujuan tertinggi


Artikel lainnya.
 

@. Paid Bangkung dan paid Kaung adalah ungkapan yang biasa kita jumpai di masyarakat. Saat kematiannya mayat dan Atmanya akan dilempari beluluk (buah Enau/jake) oleh setiap mahluk yang menjumpainya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar